Kamis, 29 Desember 2016

Perkenalkan, inilah channel baruku di youtube !

Hello World !
Perkenalkan, inilah channel baru saya di Youtube!

Alamatnya : https://www.youtube.com/channel/UCGp0BOhZyPqE3H-90Vxr2UQ

Jangan lupa di subscribe kawan-kawan...

Sabtu, 10 Desember 2016

Sudahkah Kita Menghargai?

Silaturrahim Santri dan Wali Santri Konsulat Malang
Hari ini merupakan saat yang berbahagia karena adikku pulang dari perjuangannya di Pondok Modern Gontor 3 Darul Ma'rifat Sumbercangkring Gurah Kediri. Semakin mengingatkanku pada masa-masa muda di mana semangat untuk bergerak sangat membara, menjalin kekompakan merupakan hal yang sangat membanggakan (seperti warna baju yang sama : warna biru lambang arema) serta sedang on fire dalam menelurkan karya-karya.
Ada yang baru dan sangat bagus pada acara perpulangan Konsulat kali ini. Konsulat Malang dari Gontor 1, Gontor 2, Gontor 3, Gontor 5 dan Gontor 6 bergabung serta bekerja sama menghelat sebuah acara silaturrahmi antara santri serta wali santri usai perjalanan pulang dari pondok. Bertempat di Masjid AR. Fakhruddin lt. 1 Universitas Muhammadiyah Malang. Acara berlangsung dengan meriah. Dan aku sangat mengapresiasinya, terlebih saat sambutan-sambutan disampaikan, juga sosialisasi mengenai agenda pagelaran seni yang rutin diadakan saat perpulangan akhir tahun. Semua mengikuti acara dengan seksama dan khidmat.
Bicara soal pagelaran seninya Konsulat Malang, Pagelaran seni ini dimulai semenjak tahun 2008 di bawah bimbingan Ustadz Ahmad Manshour, dipanitiai oleh Adli Ahdiyat, Fahrizal, Aunnur Rochman, Tafakkur Amin, Alfan Kurniawan, Ahmad Alfian, Abdul Majid, Abdul Majid (majid ada 2) dan kawan-kawan yang lain. Konsep direncanakan sedemikian rupa dengan penampilan-penampilan yang dikemas secara apik dan menarik (wenaak).Tentu adanya pagelaran seni ini bukan tanpa alasan. Pagelaran seni ini bertujuan sebagai bentuk dakwah, serta memperluas nilai-nilai kepondokmodernan pada masyarakat luas. Kemudian berlanjut pada tahun berikutnya yang dipanitiai oleh Hirzul Umam (Alm.), Faris Faishal, Baihaqi, Ivan Ahsanul Insan dan kawan-kawan yang lain. Berlanjut hingga saat ini kegiatan tersebut terus lestari dengan segala perkembangannya.

kembali ke judul...
Hari ini pula, aku menyoroti dengan kacamata pribadiku sendiri yang mungkin saja buram dan tak tajam, terdapat hal yang perlu untuk ditindak lanjuti dengan otokritik. Hal itu adalah soal menghargai. Dan mau tak mau, aku akan menggunakan otokritik itu. Otokritiknya kutujukan pada wali santri (termasuk aku sendiri yang sering mengantuk saat ada yang berbicara di panggung tadi termasuk saat Sosialisasi acara pagelaran seni), yaitu sudahkah kita menghargai para santri yang sedang bersemangat untuk melakukan dakwah? Sekiranya tadi saya (ganti wes ngga pake aku) melihat beberapa wali santri memberikan feedback yang bisa jadi menurunkan semangat para santri atas usaha kerasnya menyiapkan segala sesuatu untuk acara hari ini. Hal ini terlihat dengan terpejamnya mata saya (asleep) (jahat dan sangat kurang menghargai sekali) dan saat panitia ingin menunjukkan video hasil karya mereka hanya saja tersendat karena masalah sound system dan lain-lain mungkin, beberapa wali santri juga bersuara seakan memberikan semangat namun (bagi saya) semacam memiliki arti "yasudahlah wong nggak bisa" karena memang sudah gagal mencobanya berkali-kali (masalah teknis sih sebenarnya). Mohon maaf sebelumnya jika saya kurang sopan saat menggunakan otokritik ini kepada wali santri yang lebih tua jauh dari saya. Bagi saya, lebih baik saya diam atau bertindak sesuatu daripada hanya bersuara namun seperti itu. Yang kawan-kawan para santri beserta para Asatidz selenggarakan dan lakukan adalah hal positif, tidak merugikan sama sekali, dan ini adalah bentuk proses bagi para santri, menandakan bahwa mereka benar-benar belajar dengan sungguh-sungguh, maka seharusnya kita bangga kepada para santri yang semangat dalam proses. Mereka melakukan kesalahan berarti mereka belajar. Mereka belajar berarti wawasan mereka semakin bertambah juga memperbaiki praktek kehidupan mereka. Mohon maaf sekali lagi karena saya merasa kita sebagai wali santri kurang respect kepada para santri jika keadaannya seperi yang saya jelaskan di atas. Mungkin kita terburu banyak sekali urusan, terburu ingin pulang, segera melepas rindu karena santri-santri telah belajar di pondok untuk berbulan-bulan (bukan waktu yang sebentar), namun mari kita ingat bahwa mereka sedang belajar. Akankah kita mengebiri semangat belajar mereka?

Itulah otokritik bagi saya sendiri yang sangat hina ini dan beberapa wali santri saat itu. Semoga kita dapat memetik pelajaran atas segala peristiwa, bukan merasa paling benar sendiri dengan perasaan keinginan yang kuat untuk memenuhi kehendak diri yang "individualis" sifatnya.

Aku sendiri berharap semoga kawan-kawan santri tetap semangat dalam belajar, mikir-mikirlah kalau ingin mengambil keputusan untuk keluar dari pondok, berhenti mondok, pulang selamanya karena untuk membiayai kalian, orang tua tiap 1/3 akhir malam bersimpuh pada Dzat Yang Maha Kuasa, banting tulang mencari nafkah dengan segala cobaannya serta tetesan air mata mereka yang tak terhitung juga perlu kalian ingat selalu. Dan sebagai wali santri, sudah sepatutnya bagi kita untuk mendukung para santri belajar, berproses yang tentunya masih dalam koridor positif. Perlu di kontrol, namun tidak langsung "dikebiri" saat mereka tak sengaja melakukan kesalahan.

Kamis, 21 Juli 2016

Bergelut dengan Sosiologi 4

Hmmm.... usangnya blogku ini. Seperti ribuan tahun tak berpenghuni hahahahaha...

Lanjut..
Semenjak tahun 2012 di Sosiologi, aku melalui banyak sekali permainan, dinamika serta kenyataan hidup dengan sosiologi UMM baik itu dengan kawan sekelas, dosen, kakak tingkat bahkan dengan kawan-kawan sosiologi kampus lain. Akan kuceritakan secara mendetail khususnya siapa siapa saja yang ikut menjadi aktor dalam kehidupanku selama bergelut di Sosiologi. Yah, menulis dan menyebutkan bagaimana para aktor ini akan mengenang mereka, membuat mereka kekal dan tak hilang dalam ingatan. Meskipun aku tak punya foto, paling tidak memori yang dianugerahkan Allah ini akan sangat membantu sekali untuk mengingat mereka.

Mungkin akan lebih nyaman lagi jika dijelaskan per semester. Tapi, asal tahu aja, semua ini berawal dari niatku untuk kuliah Jurusan Sejarah di Universitas Negeri Malang dengan prioritas pilihan adalah Ilmu Sejarah murni dan Pendidikan Sejarah sebagai pilihan kedua. "Wah, bakal jadi mahasiswa kampus segede ini nih", gumamku dalam hati kala itu. Tapi, kenyataan berkata lain. Mungkin hasil ujian kemarin belum bisa membantu mendongkrak nilaiku sehingga dinyatakan tidak lolos. Baiklah, bimbang sejenak karena sejarah merupakan favorit bagiku dan keinginanku tak terwujud begitu saja. Namanya juga bimbang, gundah gulana, resah, gusar, bingung, lebih mbulet lagi kalau dipikir sendiri. Hmmm... Abo (panggilan untuk ayahku) dan pamanku (Cak Lili) bisa menjadi sarana diskusi. Akhirnya terpikirkanlah, kenapa tidak untuk mencoba jurusan yang sesuai dengan implementasi ilmu yang didapat saat di pondok? Di Pondok belajar agama, nilai, norma serta pelajaran umum lain secara seimbang. Penerapan di masyarakat juga perlu mengetahui dan mempelajari bagaimana masyarakat itu sehingga dakwah yang dilakukan tidak kaku serta nilai yang disampaikan tetap mengena. Dalam hal ini, sosiologi cocok untuk digeluti. Segera keesokan harinya menuju Gedung PMB UMM untuk mendaftar dengan pilihan pertama Sosiologi dan Pendidikan Bahasa Indonesia sebagai pilihan kedua. Kemudian menunggu hari tes gelombang 3. Tes berjalan lancar dan saat pengumuman, aku masuk dan diterima sebagai mahasiswa UMM pada pilihan pertama, yaitu Sosiologi. "Hmmm.. tak kusangka aku bakal kuliah di kampus tempat main bareng temen-temen dulu. Hahahahahaha", gumamku dalam hati. Tak terasa tersungging senyum merekah karena teringat masa lalu saat lift GKB 1 baru dibangun, Helipad masih berrumput, UMM DOME masih belum sempurna tertutup, mandi di sungai bawah DOME saat muktamar bareng teman-teman SD, dan lain sebagainya moment yang sangat rentan untuk terlupakan.

Wow.. aku menjadi mahasiswa UMM. Banyak yang seumuran, tapi kebanyakan beda setahun bahkan dua tahun karena memang kemarin aku sempat kuliah di ISID Kampus 4 Kediri sampai semester 2 jadi lewat setahun. PESMABA (OPSPEK) kulalui dengan riang gembira karena saking senangnya bertemu kawan-kawan yang aneh bin gokil. Mungkin sudah pada lupa hahaha. Soal PESMABA nanti kuceritakan di Tulisan lain.

SEMESTER 1
Mulai memasuki semester 1, di hari pertama kuliah, Ketua Jurusan (Bapak Rachmad Kristiono Dwi Susilo, MA) lah yang masuk dan memperkenalkan kepada kami yang culun-culun ini tentang Sosiologi dan Sosiologi di UMM. Sebelumnya sempat dikenalkan saat PESMABA tapi secara singkat tentang 3 Konsentrasi Sosiologi UMM serta dosen-dosennya. Kelas Sosiologi angkatan 2012 terbagi menjadi A & B. Aku di kelas B. Ada hal yang menurutku memalukan sih saat hari pertama masuk kelas itu. Kala itu Pak Rachmad menyinggung soal hobi menulis. "Siapa yang suka menulis?", tanya beliau. Beberapa detik berlalu dan tak ada yang mengacungkan tangannya. Ya karena hobiku menulis maka secara langsung kuacungkan tanganku. "Suka nulis apa?", tanya beliau kepadaku. "Cerpen pak sama artikel", jawabku singkat.

Kemudian beliau bertanya lagi, "Tahu tulisannya Umar Kayam?"

"Wah, saya kurang tahu pak"

"Coba dibaca, bagus itu tulisan Pak Umar Kayam". Kemudian sekelas menganggukkan kepala tanda mengerti.

Selang beberapa waktu, aku mengalami sedikit masalah. Karena saat itu flu yang kualami lumayan berat, maka seringkali (maaf) ingus yang ada di hidung pindahnya ke mulut. Dan ini terjadi saat Pak Rachmad sedang menjelaskan di depan. Yang kupikirkan saat itu adalah ingus ini akan kubuang saat kelas selesai. Namun, hal tak terduga itu terjadi. Pak Rachmad bertanya lagi, "ada yang lulusan pondok di sini?'. Seperti biasa, beberapa detik berlalu tanpa ada satupun mahasiswa yang mengacungkan tangan emas mereka. Baiklah, karena tidak ada yang mengacungkan tangan maka kuangkat tanganku dengan tanpa sepatah katapun. Yang kutakutkan adalah ketika beliau menanyakan dari pondok mana dan hal itu terjadi. Beliau bertanya kembali, "Dari Pondok mana?". Aku berhenti sejenak. Semua mata seakan memandangku. Suasana kelas mendadak sunyi. Seakan saat itu waktu terhenti hanya untuk mendengarkan jawabanku. Kenyataannya aku tak bisa menjawab karena menahan ingus yang ada di mulutku. Karena kebingungan, tak ada jalan lain selain membuang ingusku ini, spontan kuangkat tanganku dan menunjuk dengan cara menunjuk yang sopan ke arah luar dan segera keluar kelas untuk membuang ingus. Saat aku keluar, semua orang terperangah. Pasti dalam benak mereka bertanya-tanya "Anak ini ngapaiiiiiiinnnnnnn????". Hahahaha.. konyolnya waktu itu. Kemudian aku masuk kelas lagi dengan tawa kawan-kawan semua. Pak Rachmad menanyakan aku habis dari mana. Kujawab saja habis buang ingus pak. Kemudian kelas berlanjut dengan sukacita. Kami mengenal sosiologi dengan penuh kegembiraan karena penjelasan dari Pak Rachmad mungkin pembawaanya lucu tapi mengena.

Perkuliahan berjalan dengan suasana yang sama. Seperti biasa aku selalu duduk paling depan dengan teman di sampingku Abda Mahrul Fauza. Duduk di depan pula Mas Mohammad Arrifa'i, seorang yang tak jemu-jemunya menuntut ilmu meskipun usia jauh lebih tua daripada kami semua, terbukti dengan lulusan SMA angkatan 2008. Hanya saja duduknya lebih ke pojok. Sisanya para lelaki lebih memilih duduk di bangku ke 3 sampai paling belakang. Berbeda dengan perempuan di sisi sebelah yang suka memenuhi bangku depan hingga bangku keempat. Keadaan seperti ini membuat Dosen selalu meminta tolong kepadaku untuk mengambil kunci, absen dan lain sebagainya karena tempat dudukku yang dekat dengan dosen. Seperti yang pernah kuceritakan, akhirnya aku menjadi ketua tingkat. Mulai mengenali dosen-dosen Sosiologi dari Ketua Jurusan Pak Rachmad K. Dwi Susilo, MA, Dosen wali kami Bu Dr. Vina Salviana Darvina Soedarwo, M.Si, kemudian yang mengajar kami kala itu ada Bu Dra. Tutik Sulistyowati, M.Si dan dosen lain selain dosen sosiologi. Ada juga yang sangat dekat dengan kami yaitu Bu Ani Sri Rahayu, S.IP, M.AP dosen Mata Kuliah PPKn, saking dekatnya sampai kawan-kawan sering curhat ke beliau, bahkan sampai detik ini pun beliau masih ingat kepada kami. Ada Pak Sugeng Pujileksono yang sangat serius namun santai. Memang sampai saat ini kami tak melihat beliau lagi. Bu Ir. Endang Sri Hartati yang mungkin kami melihat beliau pendiam namun baik hati. Pembantu Dekan 1 kala itu Pak Dr. Asep Nurjaman, M.Si yang selalu kocak di kelas dan bikin ngakak, pelajaran ilmu politiknya tingkat tinggi. Bu Arum Martikasari, S.Ikom yang tegas dan selalu obyektif dalam penilaian mata kuliah Dasar-dasar logika. Saat itu juga ada matakuliah ESP (English for Spesific Purpose) 1 yang terbagi dalam 3 mata kuliah, yaitu Speaking, Reading dan Listening. Speaking diampu oleh Mr. Tee (Pak Teguh Hadi Saputro, S.Pd) yang saat pertama kali mengajar kami di minta untuk berbicara bahasa inggris dengan tema "Introduction" dan memperkenalkan diri. Tapi, kelas Speaking dibagi menjadi 2. Aku masuk kelasnya Pak Tee sedangkan sebagian ikut kelas Miss Shinta. Memang di awal masuk, ada 2 orang dosen yang datang yaitu Mr. Tee dan Miss Shinta. Kelas Listening diampu oleh Miss Asri Kusuma Dewanti. Beliau sangat ramah dan entah mengapa kami sekelas sangat enjoy dengan kelas Miss Asri. Yang paling terkenang saat listening dan melengkapi lirik Lagu More Than Word yang dinyanyikan kembali oleh Westlife dari awal sampai akhir karena diulang berkali-kali lagunya sampai keinget terus hahaha... Yang paling kocak adalah kelas Reading yaitu Miss Fida Hamidah. Orangnya santai dan kami mengikuti reading tanpa keluh kesah. Benar-benar semester 1 kami lalui dengan penuh kebersamaan entah aku juga bingung hahahaha. Aku bangga kawan kuliah bisa punya kebersamaan seperti itu sedangkan kelas lain bahkan jurusan atau fakultas lain bisa jadi teman sekelas tak saling mengenal.

Oh, iya. Di semester ini ada Sociology Camp yang diprakarsai oleh jurusan dan dipanitiai oleh Pengurus Himpunan Mahasiswa Jurusan. Di sini kami lebih mengenal satu sama lain antara kelas A dan kelas B. Dari kelas A yang paling dikenal saat itu ada Prisma Hastian, Ibnu Sulaiman, Novan Septa Fionanda, Winda Ika Prasetyoningtyas, M. Noor, Muhamad Ardiansyah, Satriawan Samokti dan lain-lain. Yang jelas anak kelas B mengenal Kelas A lebih urakan. Soscamp (akronim sociology camp) juga moment kami lebih mengenal Dosen Sosiologi. Saat itu kami melihat Pak Rachmad terlihat sangat semangat meskipun sebenranya beliau letih karena banyak sekali permasalahan terjadi pada kepanitiaan soscamp. Kami mulai mengenal Pak Muhammad Hayat, MA dan Bu Luluk Dwi Kumalasari, M.Si. Saat itu Pak Hayat melakukan Performance dengan menyanyikan lagu Dewa 19 berjudul Risalah Hati. Semua mengikuti dengan riang dan bergumam, "Dosen kita keren". Yang kusayangkan adalah saat itu aku tak mengikuti momen observasi dan turun ke warga secara langsung karena harus mengikuti lomba rangaian Student Day.


bersambung...
masih panjang.. sepanjang perjalanan ini..

Kamis, 24 September 2015

Kamis, 05 Februari 2015

Kuliah : Mengejar Indeks Prestasi (IP) atau Menuntut Ilmu?

Sekian lama kutinggalkan blogku, kini kulihat banyak sekali sarang laba-laba dengan debu 5 centi di tiap interiornya. Hahahahaha... Welcome Back to my Blog, People! Ini adalah renungan konyol mahasiswa yang hampir menginjak-injak masa semester 6 :) .

Lumayan nyentrik sih topik yang kutulis ini. Sekian lama aku berada di bangku kuliah semenjak tahun 2011 di ISID (Institut Studi Islam Darussalam) yang sekarang telah menjadi UNIDA (Universitas Darussalam) dengan Jurusan Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin, lalu bertolak ke UMM (Universitas Muhammadiyah Malang) di tahun 2012 dengan Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, banyak sekali lika-liku kuhadapi. Mulai dari ilmu yang membutuhkan proses lama untuk dipahami, pergaulan, nilai jelek, tugas menumpuk, bingung soal pembayaran, pusing mencari buku yang tak dijual di mana-mana bahkan di perpustakaan pun tak ada, kerja kelompok yang menindas, kesal dengan jadwal yang berubah-ubah, muak dengan teman-teman yang sok rajin karena lebih memilih tugas daripada mengerjakan soal UTS/UAS, risih dengan teman yang menyontek karena takut kita sendiri yang kena batunya oleh pengawas ujian, kompetisi IP tertinggi, dipuji dan disindir baik oleh dosen maupun kawan sendiri baik di depan maupun di belakang muka, kehabisan pulsa selama hampir sebulan (oh no!), perbedaan pendapat yang akhirnya berbuah konflik abadi, nunda pekerjaan dan jutaan masalah lain yang kalau disebutin satu persatu pasti nyengir sendiri deh..

Salah satu dari bejibun masalah di atas yang lumayan membuatku memeras otak untuk terus maju meski terjatuh tanpa banting setir mindset adalah kompetisi IP (Indeks Prestasi). Ya Allah. Tak kusangka ternyata memang benar adanya kompetisi ini. Aku tak akan mengatakan ini adalah kompetisi yang kotor dan buruk karena nyatanya ada yang memang pintar ada juga yang curang dan asal tapi karena bekal keberuntungan atau karena faktor X. Yang jelas, kompetisi ini adalah kompetisi untuk kebajikan. Namun, yang disayangkan adalah cara yang digunakan bermacam-macam.

Ada yang berusaha sekuat tenaga dengan belajar sungguh-sungguh tapi ada pula yang santai banget plus malas-malasan, tugas copy paste aja, tinggal tanya teman yang datang, tapi IP juga bagus. Bikin kesel tuh. Hahahhaa... Lagi, mungkin terlihat konyol karena menurut orang lain mungkin seperti ini "buat apa kamu mikir urusanku? urusanmu aja belum kelar" yaitu motif kompetisi IP ini berbeda-beda. Ada yang dia karena usaha untuk belajar maka wajar dapat IP bagus. Secara keilmuan dia mengetahui, bisa merasakan dan mampu mempraktekkan di lapangan. Ada juga yang bertujuan agar IP bagus karena visi ke depan sudah dirancang, aku harus dapat kerjaan dan diterima di perusahaan besar nanti sehingga selalu rajin mengikuti prosedur perkuliahan mulai dari pembelajaran, penugasan, ujian, carmuk ke dosen (masuk kriteria nggak ya? hahahaha :D) dan lain sebagainya sehingga IP bagus. Tentunya, perusahaan mana sih yang mau nerima wisudawan dengan IPK jelek? paling nggak di atas 3, lah.. (Ah, elo jih! Kuliah kan biar elo bisa keterima kerja. Terus elo kuliah buat apaan? maen-maen? | Ooooh gitu toh. Yah, aku mikirnya kuliah untuk bekal dikemudian hari coy, selain terampil di lapangan, ilmunya juga bermanfaat. Berarti gue kuliah buat bisa nyari kerjaan aja donk ntar | Yaelah, elo kagak ngarti!! Bodo amat ah!) , Ada pula yang menganggap bahwa ini adalah amanah orang tua, jadi aku harus belajar dengan giat. Bisa diterima kerja (eh sama aja ya) dan ribuan motif lain yang kalau disebutin satu-satu bakal bengong sendiri deh hehehe :D. 2 hal itulah yang membuatku terheran-heran. Mungkin akan terjawab atau bisa jadi tak usah membutuhkan jawaban.

Jelas masih membingungkan buatku, karena jika kuliahku saat ini adalah jalanku untuk menuntut ilmu, apakah menjamin nanti aku akan dapat pekerjaan? Lalu, jika kuliahku ini adalah jalanku untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang layak nanti, diterima diperusahaan besar, apakah akan menjamin semua ilmu yang kupelajari selama bertahun-tahun itu akan tetap melekat dalam hati dan pikiranku? Hmmm.... Jika dipikir-pikir, kenyataan hidup saat ini adalah kamu mau makan atau dimakan? Setelah lulus nanti adalah tuntutan secara ekonomi. Jelas!

Sebenarnya, semenjak dulu aku belajar di bangku TK (emang udah sadar ya? hahahaha), SD lalu ke KMI 6 tahun di tambah mengajar 1 tahun, mengenyam pendidikan adalah untuk menimba ilmu secara kognitif, afektif dan psikomotorik. Begitulah hingga ke bangku kuliah. Meskipun tak sempurna, tapi tak pernah terbesit dalam pikiran saat lulus kuliah nanti aku harus bisa diterima kerja di perusahaan besar dengan gaji menjanjikan. Semenjak semester 2, 3 aku sudah mendengar tentang ini (kompetisi untuk bisa diterima di dunia kerja dengan IPK bagus) dan jujur saja tak ku gubris meskipun tetap terngiang-ngiang. Hanya saja aku masih penasaran, apakah ada kompetisi seperti itu? Ternyata ada, It's real! Aku mulai merasakannya di semester 5 ini. Sempat aku berpikiran, kalau hanya jadi pegawai yooo aku yo iso brooh... Tapi bagaimana diri ini bisa bermanfaat bagi orang lain dan juga bisa berdiri sendiri. Jadi pegawai juga nggak asal jadi pegawai loh. Harus ada softskill (aku merasa softskill sangat kurang, jadi harus aku tingkatkan, terlebih disiplin harus kuperbaiki). Solusiku dengan mindset ini adalah nggak mungkin aku nggak dapat pekerjaan. Kalau aku sudah usaha belajar, nggak mungkin akan diganjar dengan nilai jelek. Biar nilai jelek datang, meskipun ada prasangka buruk ke dosen di awal, tapi pasti Allah berkehendak lain dengan membuat nilaiku jelek seperti ini. Terus aku jalani.

WOI, Ini renungan po curhatan seh??

Hahahahahahaha...

We back to our personal choice.. Dari lubuk hati yg paling dalam, 2 pilihan di atas adalah pilihan yang baik. Toh tak dapat dipungkiri semua mahasiswa akan menghadapi dunia kerja nantinya. Kalau IPK jelek, mau di taruh mana tuh muka? kalau nggak disiplin, mau dipecat? kalau nggak ada softskill, mau di malu-maluin?

Yang penting, berusaha dengan sungguh-sungguh, do'a, tawakkal. Kesuksesan nggak akan datang kecuali dengan sungguh-sungguh disertai dengan Do'a kepada Allah SWT. Orang Arab aja bilang, kalau mau sukses ya laluilah jalan menuju sukses itu, wong perahu itu loh nggak berjalan di atas tanah cuy.. :)

   

Sabtu, 31 Januari 2015

Momen-momen Kebersamaan (Kapan lagi .. :D)

Bareng teman-teman FDI saat penutupan acara Rektor Cup 2013 UMM




Bareng teman-teman ITQAN Group. Seingetku, foto ini diambil setelah sesi foto bersama satu angkatan di masjid. Mumpung yang di pondok cabang pada datang, langsung foto bareng deh...

Selasa, 02 September 2014

Aku, ITQAN Group dan Forum Diskusi Ilmiah

Pengurus ITQAN Group 685/2011
Saat aku kelas 5 KMI....
Aku terpilih untuk menjadi kader ITQAN Group. Situasiku setengah mendukung setengah menolak. Satu sisi aku ingin bergerak di ITQAN, bersaing pula dengan seorang sahabatku, namun di sisi lain aku berada di posisi kelas bawah, 5R. Terlebih, aku belum pernah mengalami menjadi pengurus asrama. Biarlah. aku terpilih dengan Taufik Nugroho menjadi Kader ITQAN Group 2010. Kata lain dari terpilihnya menjadi kader adalah terpilihnya aku dan taufik untuk menjadi Pimpinan Umum atau Pimpinan Redaksi. Entah salah satu dari kami nanti pasti berada di 2 posisi penting itu.

Waktu berlalu dengan cepatnya. Tibalah saatnya pergantian pengurus. Taufik, aku beserta kawan seangkatanku naik menggantikan posisi senior yang turun dari kepengurusan mereka. Yap. Akhirnya, Taufik lah yang berada di posisi Pimpinan Umum sedangkan aku di Pimpinan Redaksi. Bagaikan 2 ketua dalam 1 organisasi. Namun, posisinya dibuat Pimpinan Umum berada di paling atas dan di bawahnya barulah Pimpinan Redaksi. Kami masih duduk di kelas 5 saat itu. Pengurus harian ada 5 orang yaitu, Taufik, aku, Endri Prasetyo, Fachri Abu Bakar & satu lagi aku lupa antara Alkhaledi Kurnialam atau Ricky Nuari karena memang periodenya hanya beberapa bulan sebelum kenaikan kami ke kelas 6.
Usai kenaikan kelas, aku dan taufik harus berpisah dengan fachri dan endri karena mereka lulus namun di tempatkan di pondok cabang. Akhirnya, pengurus harian berganti  menjadi Taufik, aku, Laili Annas Sholihan, Ricky Nuari dan Alkhaledi Kurnialam. Saat itu, kami menerima 4 orang anggota baru ITQAN Group yang sudah kelas 6 berasal dari kendari. Salah satu dari mereka kami angkat menjadi pengurus harian. Mereka adalah Ahsan Qashash, Abdul Rachman Bahtiar, Laili Annas Sholihan dan Muhammad Nur Adiatma. Saat itu, terpilih 2 orang kader yang akan membantu kami dan sebagai benih kelanjutan ITQAN, yaitu Mohammad Iir Solahuddin dan Muhammad Iksan Rahmadian. Dan, pengurus harian berjulah 7 orang. Kawan seangkatan lain juga pengurus hanya saja tidak tinggal di kantor ITQAN karena mereka berada di bagian-bagian OPPM dan Non-OPPM.

Suka duka kami lalui dengan penuh halangan, rintangan serta cobaan bahkan cemoohan. Mungkin karena kekurangan-kekurangan. Biarlah. Itulah usaha kami. Ada beberapa moment yang tak terlupakan dalam memoriku, yaitu :
1. Pemilihan Kader ITQAN. Yang ini sudah kuceritakan di posting sebelumnya.

2. Pemilihan Pimpinan Umum dan Pimpinan Redaksi oleh pengurus harian angkatan atas. 

3. Perpisahan dengan Endri dan Fachri. Selama 3 bulan, mereka berdua mampu meramaikan kantor tiap harinya dengan canda tawa. Namun, mereka pergi untuk 1 tahun lamanya. Tak hanya Endri dan fachri, Ahmad Habib Musthofa, Prasetyo Budi Utomo dll juga terpaksa pergi ke tempat lain. Tak apa, tempat perjuangan tak hanya di Gontor Pusat. Pondok Cabang juga perlu diperjuangkan.

4. Saat aku menjadi panitia Panggung Gembira 685, aku sempat di tanya, "Kamu mau jadi bagian apa?". Aku tetap yakin. "Saya masih di ITQAN saja".

5. Kedatangan Penulis Negeri 5 Menara, Ust. Ahmad Fuadi yang merupakan senior kami, senior ITQAN Group tahun 1992. Saat itu, ITQAN hendak mengadakan acara bedah buku Negeri 5 Menara namun belum kesampaian. Hanya saja ITQAN berkesmpatan untuk menjadi marketer buku Negeri 5 Menara saat itu karena kebetulan Darussalam Press yang kesampaian untuk mengadakan Bedah Buku Negeri 5 Menara. Ini terjadi saat aku kelas 5.

6. Ust. Ahmad Fuadi datang untuk kedua kalinya. Beliau kali ini datang karena ITQAN Group mengadakan event bedah buku kedua beliau yaitu "Ranah 3 Warna". Kebetulan Ricky Nuari menjadi ketua pelaksana. Saat itu kondisi tubuhku kurang fit jadi tak maksimal untuk mempersiapkan serta turun untuk acara ini.

7. Ini saat paling memalukan. Aku dan Annas usai mengajukan majalah ITQAN yang kami buat ke pembimbing. Namun, beberapa hari kemudian, pembimbing membawa majalah mentah kami ke kantor dan kebetulan beliau mengisi saat itu. Lalu, aku dan annas datang setelah 30 menit beliau mengisi di ITQAN. Kami berdua di sambut dan diminta duduk di depan. Majalah yang kukerjakan dengan Annas habis-habisan di evaluasi pula habis-habisan. Namun, tragisnya, hal ini terjadi di depan para anggota ITQAN yang baru-baru dan tingkat menengah. Ada beberapa dari mereka yang mencemooh perlahan namun menyakitkan, ada pula yang hanya melihati kami berdua sedari tadi. Lantas, kami berdua tertunduk malu. Iir, iksan dan pengurus harian yang lain juga ikut tertunduk. Aku bingung harus berbuat apa saat itu. Semalaman, aku tak bisa tidur. Sempat aku putus asa. Namun, melihat Annas tetap semangat mengedit majalah, hatiku tergerak. Annas yang belum merasakan lama di ITQAN saja semangat, maka aku juga harus semangat. Majalah berlanjut meskipun penerbitannya usai kami lulus. Sungguh sebuah degradasi.

8. Pada masa-masa ujian, kami menggunakan gudang ITQAN untuk belajar bersama, sharing ilmu, sahur bersama dan tahajjud bersama. Kami tirakat bersama di gudang ITQAN yang lumayan sempit. Semoga kami sukses di masa depan. Aamiin...

9. Ngecat background adalah hal yang kurang bisa kami lakukan namun kami memaksa untuk membuat. Yah, kalau bukan kami, siapa lagi. Hehe meskipun bentuknya jelek namun menjadi kenangan terindah.

10. Kami seangkatan berjanji akan bertemu di tahun 2020.

11. Pemilihan Pimpinan Umum dan Pimpinan Redaksi yang baru. Kami memilih antara Iir dengan Iksan. Siapa yang akan berada di posisi PU atau Pimred. Yah, akhirnya jatuh pada Iir sebagai PU dan Iksan sebagai Pimred. Proses pemilihan amat panjang dan butuh pertimbangan.

12. Dan lain lain yang tak bisa kuceritakan satu per satu.

******

Kini, aku melanjutkan studiku di Universitas Muhammadiyah Malang. Sebagai seorang Rajih, aku tak mau hari-hariku hampa. Maka, kusibukkan diriku dengan berbagai aktivitas, asal kuliah juga terkontrol meskipun sempat tak terkontrol di semester 3. Aku aktif di Organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komissariat Renaissance FISIP dan aktif pula di Unit Kegiatan Mahasiswa Forum Diskusi Ilmiah (FDI). FDI ini mirip-mirip dengan ITQAN Group.

Beberapa waktu yg lalu, aku terpilih menjadi Ketua 1 di UKM FDI bersama dengan Sakinah Nur Rokhmah sebagai Ketua 2. Detik-detik itu membuatku teringat saat masa kelas 6 KMI dulu. Bersama Taufik aku berusaha memotori ITQAN agar menjadi lebih baik namun sangat kurang maksimal. Aku tak mau kekurang maksimalan yang telah terjadi dulu terulang kembali.

Ada beberapa kejelekanku yang harus aku jadikan pelajaran dan mungkin pembaca juga bisa menjadikan ini pelajaran.

1. Dulu, di ITQAN, aku selalu merasa ingin dihormati. Aku terlalu peduli dengan harga diriku yang dulunya kader ITQAN kemudian menjadi Pimred. Bahkan, PU pun ku kritik seakan-akan akulah yang pantas untuk menjadi PU. Secara, saat itu masih ada benih-benih ketidakterimaan dalam diriku. Mengapa bukan aku yang menjadi PU padahal aku sudah bekerja banyak sedangkan partnerku hanya sekedarnya saja. Terlebih ia cenderung memilih untuk berada di OPPM ketimbang di ITQAN. Tak hanya PU yang kujadikan sasaran. Seluruh Pengurus harian kukritik dan kuberi solusi seakan aku paling benar sendiri. Yah, perbuatan cerobohku ini berdampak pada diriku pula. Saat aku sakit gejala tipes, tak ada yang memerhatikanku. Beban permajalahan juga tertumpu padaku. Pernah suatu kali, Pimpinan Umum memintaku untuk berganti posisi selama seminggu agar aku menunjukkan bagaimana sih menjadi PU yang baik itu. Jika kupikir-pikir sekarang, betapa sombongnya aku dulu. Aku belum tahu diri.

2. Sempat ada salah satu pengurus harian yang membuatku jengkel dan mengkonstruksi pikiranku bahwa ia melangkahi gerakanku. Seakan-akan, posisiku sebagai Pimred direbut olehnya. Anehnya, PU sendiri tak menggubris hal itu. Aku benar-benar buta kewenangan. Sebenarnya, baik saja. Namanya juga organisasi. Saling membantu. Tapi saat itu, aku benar-benar ingin marah. Arahanku selalu tak diindahkan. Aku seakan direndahkan dan diremehkan. Entah ini naluriku atau memang perasaanku yang tak ingin diabaikan begitu saja, tak ingin direndahkan begitu saja. Tapi, memang harus kuakui aku khilaf. Mungkin dia juga khilaf. Aku terlalu berambisi untuk dilihat orang. Aku tak mau menjadi orang yang tak pernah melakukan apa-apa lantaran ia selalu mengambil apa yang menjadi wewenang, hak, kewajiban serta tugasku. Dia juga mengambil pekerjaan orang lain tanpa memikirkan pekerjaan dia yang masih belum selesai. Memang sama-sama salah dan kurang arahan.

3. Aku hanya bergaul pada beberapa orang saja yang mau mengerti keadaanku dan bisa kuajak bekerja sama. Dan yang tindak tanduknya berseberangan dengan pola pikirku, selalu berusaha kujauhi meskipun pada akhirnya harus bekerja sama dengan dia. 

4. Aku masih kurang memikirkan pekerjaanku sendiri di mana tugas Pimpinan Redaksi adalah bertanggungjawab penuh dengan terbitnya majalah yang seharusnya 3 bulan sekali. Aku terpaku pada birokrasi yang sulit serta pola kepemimpinan PU. Seharusnya, aku membantu PU dan mendukungnya lalu fokus pada permajalahan. 

5. Aku masih belum bisa membagi antara akademik dengan kepentingan organisasi. Akibatnya, berat sebelah, bahkan tak ada satupun yang berat. Sama-sama hampir kosong. Aku yang kaku membuat interaksi serta kerjasama menjadi minim.

6. Aku pernah dipermalukan di depan anggota muda (Al-Hambra) dan anggota madya (Ulul Albab) oleh pembimbing lantaran susunan majalah mentahan masih sangat keliru bersama Sekretaris yang membantuku. Jangan sampai hal ini terjadi lagi.

7. Sejatinya, aku dan PU adalah partner. Sudah semestinya kami berdua saling mengerti satu sama lain, bukan saling berseberangan. Perlu ada evaluasi diri dan saling mengingatkan. Bukan malah berjauhan. 

8. Karena merasa tidak enak dengan pengurus harian lain akibat tak ikut andil dalam beberapa proses, aku bersembunyi di gudang dan tinggal di sana selama 2 minggu. Setelah uzlah, aku sadar bahwa ini adalah perbuatan bodoh.

Sungguh nahas jika perbuatan-perbuatan bodoh di atas terulang kembali. Takdir sudah pasti berjalan. FDI memang hampir sama dengan ITQAN kepengurusannya dulu. Ada yang mungkin pemikirannya berseberangan denganku. Ada yang mungkin seakan-akan menganggapku tidak ada dengan berbuat layaknya seorang ketua, mengambil alih wewenangku dan melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Boleh jadi tugasnya belum selesai atau bahkan sudah terkerjakan. Ada pula yang tak menggubris arahanku sehingga terkesan merendahkan dan menganggapku tak ada atau aku hanya sekedar formalitas saja. Ada pula yang mau diajak bekerja sama. Ada pula yang ngikut saja. Ada pula yang bisa di ajak kerja sama namun sebenarnya ada sesuatu yang ia pikirkan. Semuanya ada. Dulu yang kualami semua ada di sini.
Aku dan Ketua 2 juga tak selaras dalam sifat, pola pikir serta tindak tanduk. Namun, sebagai pelajaran, aku harus berusaha menggandengnya untuk kemajuan organisasi agar masa lalu terpuruk itu tak terulang kembali. Aku juga harus belajar bersabar dengan orang yang mengambil alih, yang seakan merendahkan atau menganggapku tak ada dsb. Harus kutahan emosiku. Kasihan organisasi jika emosiku yang menjadi nomor satu. Mereka adalah bagian dari tubuh. Maka, aku akan berusaha untuk tak melukai. Jika bagian tubuh ini rusak, akan berusaha kuobati dengan bantuan bagian tubuh lain. Ada masalah, diselesaikan bersama-sama. Jangan ada lagi komunikasi yang kaku. Bismillah... Semoga kedepannya jauh lebih baik. Aamiin...